Jumat, 05 Mei 2017

Ulangan harian sejarah 3 Perkembangan IPTEK dinasti Fathimiyah




Perkembangan IPTEK pada masa Dinasti Fathimiyah, Mesir.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dinasti fathimiyah bisa dibilang cukup membanggakan, bila dibandingkan dengan dinasti-dinasti lainnya. Akan tetapi sumbangan dinasti fathimiyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak sebesar sumbangan Abbasiyah di Baghdad dan umayyah di Spanyol.

Pada masa ini kurang produktif dalam menghasilkan karya tulis dan ulama besar kecuali dalam jumlah yang kecil. Sekalipun banyak diantara Khalifah dan para wazir menaruh perhatian dan penghormatan kepada para ilmuwan dan pujangga. Salah satu wazir yang paling peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah Ibnu Khillis, ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang setiap bulannya ia berikan subsidi besar.

Pada saat Ibnu Khillis menjadi wazir, istana menjadi surga bagi para ilmuwan. Hal ini terlihat dari isi istana yang berisi para ilmuwan islam Dinasti Fathimiyah, diantaranya adalah seorang fisikawan besar bernama Muhammad At-Tamim, Lalu terdapat Al-Kindi sebagai sejarawan serta Topografer terbesar yang hidup di Fustat, ia meninggal pada tahun 961 M.

Sementara itu terdapat pakar terbesar pada awal dinasti Fathimiyah berdiri yaitu Qadzi An-Nu’man dan beberapa keturunannya yang menduduki jabatan Qadhi dan keagamaan tertinggi selama 50 tahun semenjak penaklukkan Mesir sampai pada masa pemerintahan Al-Hakim.

Selain pandai dalam bidang hukum, para Qadhi ini juga cakap dalam berbagai disiplin pendidikan tinggi. Selain itu pada masa khalifah Al-Hakim terdapat beberapa orang mesir yang berkarya dalam penulisan sejarah, syair, astrologi, dan juga hal-hal lain tentang keislaman.

Selain mahir dalam bidang kepemimpinan para khalifah Fathimiyah juga merupakan tokoh pendidikan serta orang yang berperadaban tinggi. Diantarannya adalah khalifah Al-Aziz yang termasuk diantara khalifah-khalifah yang mahir dalam bidang syair dan ia juga mencintai kegiatan pembelajaran,salah satu peranannya dalam bidang pendidikan bagi dinasti Fathimiyah adalah ia telah mengubah masjid agung Al-Azhar menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi.

Khalifah lainnya adalah Al-Hakim, pada saat ia berkuasa istananya dihiasi dengan kehadiran seorang pakar terbesar dalam bidang astronomi yaitu Ali bin Yunus, lalu terdapat juga Ibnu Ali Al-Hasan bin Al-Haitami sebagai seorang fisikawan muslim terbesar dan ia juga ahli dalam bidang optik.
Selain dua orang ilmuwan tersebut terdapat juga sejumlah sastrawan dan ilmuwan lainnya yang berkarya di Istana Fathimiyah, terutama pada masa Al-Hakim berkuasa.  Peranan para khalifah Fathimiyah dalam bidang IPTEK yang lainnya adalah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi, lalu mendirikan perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuan.

Salah satu dari lembaga ilmu pengetahuan yang terkenal dari dinasti Fathimiyah adalah Dar Al-Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Al-Hakim pada tahun 1005 M, lembaga ini merupakan prakarsa terbesar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sekalipun pada awalnya lembaga ini dimaksudkan sebagai sarana penyebaran dan pengembangan ajaran Syi’ah Ismailiyah.

Karena besarnya minat Khalifah Al-Hakim dalam penelitian astronomi, ia pun mendirikan lembaga observasi di bukit Al-Mukattam. Selain untuk meneliti bidang astronomi, lembaga observasi seperti ini juga digunakan untuk mempelajari astrologi, kedokteran, kimia dan sejenisnya. Lembaga ini juga didirikan di beberapa tempat lainnya.

Selain itu para Khalifah Dinasti Fathimiyah pada umumnya juga mencintai berbagai macam seni, termasuk seni arsitektur, oleh karena itu mereka memperindah ibu kota dan kota-kota lainnya dengan berbagai macam bangunan megah.

Diantara bangunan-bangunan yang menandai kemajuan arsitektur Dinasti Fathimiyah adalah masjid agung Al-Azhar serta masjid agung Al-Hakim, disamping itu para Khalifah Fathimiyah juga mendatangkan sejumlah arsitek Romawi untuk membantu menyelesaikan tiga buah gerbang raksasa yang terletak di Kairo, serta benteng-benteng di wilayah perbatasan Bizantium.

Semua bangunan ini merupakan sebagian dari peninggalan Dinasti Fathimiyah dalam bidang seni arsitektur. Demikian peranan Dinasti Fathimiyyah dalam bidang Ilmu pengetahuan dan teknolologi yang juga berjasa bagi umat islam pada umumnya

Hikmah yang dapat kita ambil adalah meskipun alirannya Syi’ah tetapi tidak menutup kemungkinan jika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi orang Syi’ah lebih pesat bila dibandingkan dengan orang sunni sehingga menjadikan orang-orang sunni belajar dari perkembangan tersebut.

Lalu kita juga dapat meneladani para ilmuwan muslim yang hidup pada masa Fathimiyah, karena mereka juga turut berjasa dalam mengembangkan IPTEK bagi umat islam dan dunia pada umumnya.

Hikmah selanjutnya yang dapat kita ambiladalah peranan pemerintah yang begitu besar terhadap perkembangan IPTEK di zaman Fathimiyah, hal ini dapat kita terapkan sebagai umat muslim yang mencintai ilmu, karena jika para ilmuwan saja tidak didukung oleh kalangan Istana, pastilah perkembangan ilmu pengetahuan juga tersendat-sendat.

Pada akhirnya semoga kita kedepannya dapat menerapkan hikmah-hikmah yang ada tersebut kedalam kehidupan kita guna membangkitkan kehormatan serta kejayaan umat islam di mata dunia. Aamin-Aamin ya robbal ‘alamin


Kamis, 04 Mei 2017

Dampak positif, negatif kedatangan bangsa eropa ke Indonesia (S.Indonesia)


Dampak positif serta negatif kedatangan VOC, Belanda, Perancis, Inggris, dan sistem kolonialisme serta imperialisme bagi bangsa Indonesia.
Pada kesempatan emas kali ini saya akan membahas tentang dampak positif serta negatif dari kedatangan VOC, Belanda, Perancis, Inggris, dan sistem kolonialisme serta imperialisme bagi bangsa Indonesia.
Pertama saya akan bahas VOC terlebih dahulu, berikut dampak positif dari Voc untuk Indonesia : 
  • ·             Rakyat Indonesia mengenal teknik menanam berbagai jenis tanaman baru.
  •         Rakyat Indonesia mengenal tanaman dengan kualitas ekspor.
  •    Rakyat Indonesia mengenal ekonomi uang, mengenal sistem pertahanan benteng, etika perjanjian, dan prajurit bersenjata modern (senjata api, meriam).


Selain itu terdapat pula dampak negative Voc bagi bangsa Indonesia yaitu :

·         Kekuasaan raja menjadi berkurang atau bahkan didominasi secara keseluruhan oleh VOC.
·         Wilayah kerajaan terpecah-belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru di bawah kendali VOC.
·         Hak oktroi (istimewa) VOC, membuat masyarakat Indonesia menjadi miskin, dan menderita.
·         Pelayaran Hongi, dapat dikatakan sebagai suatu perampasan, perampokan, perbudakan, dan pembunuhan.
·         Hak ekstirpasi bagi rakyat merupakan ancaman matinya suatu harapan atau sumber penghasilan yang bisa berlebih.

Selanjutnya saya akan membeberkan dampak positif serta negative penjajahan bangsa Belanda bagi Indonesia.

Dampak Positif :

  •  Adanya Tekhnologi yang dibawa oleh Belanda menambah Pengetahuan Masyarakat dalam bidang cocok tanam.
  • Pembangunan Infrastruktur secara  besar besaran seperti jalan, bangunan, sekolah.
  • Pendidikan yang semakin baik (Tapi pendidikan hanya dirasakan oleh kaum   bangsawan).
  • Adanya budaya baru yang masuk.
  • Menambah pengetahuan tentang bahasa (bahasa Asing khususnya Bahasa Belanda).
  • Rakyat indonesia mengetahui tanaman yang laku di pasaran eropa.
  • Rakyat Indonesia mengenal tekhnologi multicrops dalam pertanian


 Nah itulah dampak positif kedatangan Belanda di Indonesia, Tapi sebaik baiknya Belanda pasti semua itu hanya akal bulus Belanda untuk mengeruk kekayaan indonesia ini. berikut dampak negatif Belanda datang ke Indonesia.

B. DAMPAK NEGATIF
a)      Rakyat semakin miskin
Sawah dan ladang menjadi terlantar karena adanya kerja paksa
b)      Kesejahteraan rakyat yang sangat minim
c)      Terjadinya kesenjangan sosial
d)      Jumlah penduduk yang menurun
e)      Banyaknya kasus kelaparan
f)       Banyak kasus kematian
g)      Hasil pertanian yang dibeli dengan sangat murah
h)      Banyak masyarakat yang kesulitan mencari pangan
   
Itulah dampak positif negatif penjajahan Belanda di Indonesia, dari uraian diatas dapat saya simpulkan :"Semua yang dilakukan Belanda ada baik dan buruknya, tapi karena Belanda adalah seorang penjajah maka semua yang dilakukan Belanda adalah salah, Belanda telah membuat seluruh rakyat Indonesia ini menderita baik ahir maupun batin".

Pembahasan selanjutnya adalah plus-minus sistem Kolonialisme dan imperialism bagi Bangsa Indonesia.
Dampak Positif :
1)     Banyaknya dibangun pelabuhan-pelabuhan sehingga Indonesia menjadi pusat perdagangan di Asia tenggara terutama di daerah Malaka.
2)    Setelah kedatangan bangsa Eropa di Indonesia banyak berdiri pusat-pasat Industri yang dapat mengurangi angka penganguran di Indonesia.
3)  Dibangunnya sarana jalan darat (jalan raya) sehingga antara kota yang satu dengan yang lainnya terasa dekat.
4)      Didirikannya sekolah yang dapat mencerdaskan para generasi penerus bangsa Indonesia.
Setelah kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia bangsa Eropa beralih keinginan untuk untuk menjajah bangsa Indonesia sehingga terjadilah peperangan di mana-mana. Adapun dampak negatif kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia adalah:
1)      Masyarakat Indonesia merasa tertindas dengan kedatangan bangsa Eropa yang selalu bersikap semena-mena terhadap bangsa  Indonesia.
2)  Terjadinya pemberontakan dimana-mana yang mengakibatkan banyak nya warga Negara Indonesia yang meninggal.
3)      Bangsa Eropa mengadu domba seluruh masyarakat Indonesia.
4)    Terjadinya perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia yang akhirnya banyak menelan korban para warga Indonesia.
5)      Warga Indonesia merasa tidak bebas dengan adanya bangsa Eropa di Indonesia.

Dan selanjutnya dampak positif serta negatif bangsa Inggris terhadap Indonesia

Dampak positif:

  • Rakyat Indonesia mengenal teknik menanam jenis-jenis tanaman baru. 
  • Rakyat Indonesia mulai mengenal tanaman dagang yang laku dipasaran ekspor Eropa.
  • Memperkenalkan teknoligo multicrops dalam pertanian.

Dampak Negatif :
  • Rakyat makin miskin karena sebagian tanah dan tenaganya harus disumbangkan secara cuma-cuma kepada Belanda.
  • Sawah dan ladang menjadi terlantar karena kewajiban kerja paksa yang berkepanjangan mengakibatkan penghasilan menurun.
  • Beban rakyat makin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panen, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, serta menanggung risiko apabila panen gagal.
  •  Akibat bermacam-macam beban, menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.
  • Bahaya kelaparan dan wabah penyakit timbul di mana-mana sehingga angka kematian meningkat drastis. 
  • Bahaya kelaparan yang menimbulkan korban jiwa terjadi di daerah Cirebon (1843), Demak (1849), dan Grobogan (1850). Kejadian itu telah mengakibatkan penurunan jumlah penduduk secara drastis. Di Demak jumlah penduduknya yang semula 336.000 jiwa turun sampai dengan 120.000 jiwa, di Grobogan dari 89.500 turun sampai dengan 9.000 jiwa. 
  • Demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lain, penyakit busung lapar (hongerudeem) merajalela.
  • Jumlah penduduk Indonesia menurun

 Sementara untuk bangsa perancis dampak positifnya adalah banyaknya bangunan benteng serta jalan raya anyer-panarukan dan berbagai sistem perdagangan lalu dampak negatifnya adallah rkyat banyak yang menjadi korban akibat beberapa proyek tersebut.

Selasa, 02 Mei 2017

Kedigdayaan Sultan Sulaiman al-Qanuni


SULEIMAN THE MAGNIFICENT
Baik, pada kesempatan kali ini saya akan membeberkan kehebatan seorang pemimpin umat islam pada abad pertengahan yang mana saat itu islam menjadi penguasa dunia dan juga rujukan atau panutan dunia dalam segala hal. Pemimpin adil dan bijaksana itu adalah Sulaiman al-Qonuni bin Salim, yang dikenal orang-orang Barat sebagai Sulaiman yang agung atau Suleiman the Magnificent. Ia memerintah selama 48 tahun, dimulai dari tahun 926 H hingga 974 H, dan ia juga termasuk salah satu sultan yang termasyhur dari kerajaan Turki Utsmani selain Sultan Mehmed Al-Fatih, Bayazid 1,dan Orkhan. Selain itu ia dipercaya sebagai sultan terlama dibanding sultan-sultan lainnya yang memerintah kerajaan Turki tersebut.
Ia berhasil menjadikan kerajaan ini begitu kuat dan berkuasa selama ia memerintah Kesultanan Utsmani, Hal tersebut dapat dibuktikan pada luas wilayah imperium Utsmani yang luasnya belum pernah tercapai pada masa sebelumnya. Perkataannya didengarkan oleh seluruh negeri dan kerajaan lainnya. Kekuasaannya terbentang ke penjuru negeri dan pengaruhnya meliputi seluruh dunia, maka tak heran apabila ia menjadi penguasa yang paling disegani di dunia pada masa itu. Manajemen administrasi dan tata perundangan kerajaannya begitu modern, tanpa menyimpang dari syariat Islam yang memang selalu dijaga, dimuliakan, dan dipegang teguh oleh keluarga kesultanan Utsmani di setiap wilayah kekuasaan mereka. Ilmu pengetahuan dan sastra begitu maju serta arsitektur dan pembangunan begitu berkembang.
Masa Pertumbuhan dan Awal Pemerintahan
Ayah Sultan Sulaiman adalah Sultan Salim I dan ibunya bernama Hafshah. Ia dilahirkan di Kota Trabzon tahun 900 H bertepatan dengan 1495 M. Sulaiman kecil dikenal sebagai seorang anak yang tekun dan memiliki kesungguhan. ketika ia dilahirkan, sang ayah sedang menjabat sebagai amir di daerah Trabzon. Ayahnya memberikan perhatian yang begitu besar padanya. Sedari kecil, ia dididik untuk mencintai ilmu dan sastra, mencintai ulama, ahli fikih, dan sastrawan.

Kota Trabzon, kota kelahiran Sultan Sulaiman. Terletak di wilayah tenggara Republik Turki.

Tatkala ayahnya wafat pada 9 Syawal 926 H atau 22 September 1520 M, Sulaiman langsung dilantik menjadi raja yang baru oleh keluarga istana guna menggantikan ayahnya. Saat itulah secara langsung ia memegang urusan negara dan memainkan peranan utama dalam perpolitikannya. Ketika ia dilantik, ia membuka khotbahnya dengan membaca ayat,
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Naml: 30).
Sultan Sulaiman benar-benar memenuhi hari-harinya untuk bertanggungjawab sebagai kepala Negara ketika ia berkuasa/memerintah.
Pada awal masa pemerintahannya, ia telah menorehkan beberapa keberhasilan yang gemilang diantarannya, memperluas pengaruh kerajaan, mengalahkan pihak asing yang hendak mencampuri urusan kerajaan, dan menertibkan wilayah yang hendak melepaskan diri dari otoritas Utsmani. Mereka yang tidak senang dengan sultan sulaiman mengira dengan usia Sultan Sulaiman yang masih sangat muda, yaitu 26 tahun, merupakan kesempatan yang tepat untuk mewujudkan ambisi dan keinginan mereka. Ternyata tidak semudah apa yang mereka sangka. Di usia belianya, Sultan Sulaiman sudah memiliki kekuatan dan kematangan dalam memimpin.
Beberapa pemberontakan berhasil dipadamkan oleh sultan Sulaiman seperti pemberontakan yang dikobarkan oleh Janbirdi al-Ghazali di Syam, Ahmad Basya di Mesir, dan seorang Syiah yang bernama Qulandar Jalabi di daerah Konya dan Kahramanmaraş. Qulandar mengerahkan 30.000 pengikutnya untuk mengadakan revolusi, menggulingkan kerajaan.

Perjuangan jihad dalam mengusir penjajah Eropa di Timur Tengah
Pada masa pemerintahannya, terjadi beberapa kali peperangan. Pada tahun 927 H/1521 M, Utsmani berhasil menguasai wilayah Belgrade (ibu kota Serbia sekarang). Tahun 935 H/1529 pasukan Utsmani mengepung Kota Vienna (ibu kota Austria sekarang) walaupun tidak berhasil menguasainya. Di kesempatan berikutnya upaya menaklukkan Vienna kembali dilakukan, namun hasilnya tetap sama. Kemudian Budapest, ibu kota Hungaria menjadi salah satu propinsi Utsmani. Salah satu dampak dari peperangan-peperangan yang dilakukan oleh Sultan Sulaiman adalah wilayah kekuasaan kesultanan Utsmani kian meluas hingga mencapai Eropa, Asia, dan Afrika.

Peta wilayah kekuasaan Turki Utsmani

Di benua Asia, Sultan Sulaiman menghadapi tiga kali peperangan besar dengan negara Syiah yaitu Kerajaan Safawi. Peperanga antara dua kerajaan islam berbeda aliran ini bermula pada tahun 941 H/1534 M yang mengakibatkan Irak menjadi bagian dari Daulah Utsmaniyah. Kemudian tahun 955 H/1548 M, Tabriz (wilayah Iran) dapat direbut oleh Utsmani. Dan pada tahun 962 H/1555 M, Sultan Sulaiman berhasil memaksa Shah Tahmasp I (Raja Iran) untuk mengikat perjanjian perdamaian sekaligus menjadikan Utsmani berkuasa penuh atas Arywan, Tabriz, dan Anatolia.
Sultan Sulaiman juga menghadapi Portugal di Samudera Hindia dan Teluk Arab. Pada tahun 953 H/1546, Yaman, Oman, Ahsa, dan Qatar menjadi provinsi-provinsi Daulah Utsmani. Hal ini menyebabkan semakin kecilnya pengaruh Portugal di Timur Tengah. Di Afrika, Libya, sebagian besar Tunisia, Eritria, Djibouti, dan Somalia menjadi bagian wilayah Turki Utsmani di masa pemerintahan Sultan Sulaiman al-Qonuni.
Pembangunan dan perkembangan maritim Utsmani
Angkatan laut dari suatu kerajaan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kedaulatan laut kerajaan. Pembangunan maritim Utsmani pada awalnya dirintis dan mengalami pertumbuhan pesat pada masa pemerintahan Sultan Bayazid II. Sedangkan pada masa Sultan Sulaiman, kekuatan maritim pun kian diperkokoh. Dengan panglima angkatan laut yang sangat terkenal yaitu Khoiruddin Barbarossa, Ia adalah seorang panglima angkatan laut Utsmani yang tangguh. Ia berhasil menguasai pantai Spanyol dan menghancurkan angkatan laut Pasukan Salib di Laut Mediterania. Karena kehebatan serta ketangguhannya, ia sampai dicitrakan oleh orang-orang Barat sebagai seorang bajak laut.
Khoiruddin Barbarossa berperan besar dalam membantu Sultan Sulaiman menghadapi orang-orang Spanyol dan juga dalam menyelamatkan ribuan muslim Spanyol dari kekejaman Kristen Eropa. Pada tahun 935 H/ 1529 M, kapal-kapal laut Utsmani diberangkatkan menuju pesisir Spanyol untuk mengangkut sekitar 7000 muslim Spanyol yang diburu oleh pemerintah Kristen Spanyol untuk dibunuh, dipaksa memeluk Kristen, atau dijadikan budak.
Ia juga dipercaya oleh Sultan Sulaiman dalam menghadapi serangan orang-orang Spanyol di Laut Mediterania. Spanyol menderita kerugian yang sangat besar karena kalah dalam pertempuran tersebut. Dan penderitaan terbesar aliansi Kristen adalah dalam Perang Preveza pada tahun 945 H/1538 M.
Khoiruddin Barbarosa juga berperan dalam kerja sama militer dengan Prancis saat membebaskan Kota Nice pada tahun 950 H/1543 M. Hasil dari kerja sama ini adalah Utsmani diberikan kekuasaan atas kota pelabuhan Toulon. Dan Kota Toulon pun menjadi basis militer dan pelabuhan Kerajaan Utsmani di Laut Mediterania bagian barat.
Perkembangan Daulah Utsmaniyah di Masa Sultan Sulaiman
Wilayah kekuasaan Utsmani kian meluas hingga mencapai Laut Merah karena mereka berhasil mengusir orang-orang Portugal dari wilayah tersebut. Di Afrika, Habasyah (Ethiopia)pun menjadi bagian dari Utsmani. Dengan demikian, jalur-jalur perdagangan antara Asia dan dunia Barat melewati negara Islam Turki Utsmani.
– Perkembangan Peradaban
Sultan Sulaiman al-Qonuni adalah seorang yang mahir dalam menggubah syair, menulis kaligrafi, dan mengusai beberapa bahasa timur, seperti bahasa Arab. Selain itu ia juga suka dengan batu mulia, arsitektur, dan kontruksi bangunan. Hal ini berdampak pada pembangunan di kerajaannya.
Pada masa pemerintahannya, Ia membangun beberapa bangunan utama seperti masjid-masjid di wilayah Aden, Yaman, dan al-Qanatir al-Khayriyya, Mesir serta di berbagai penjuru wilayah Turki Utsmani. Khususnya di Damaskus, Mekah, dan Baghdad.selain itu ia juga membangun benteng di Rhodes, Belgrade, dan di wilayah Iran. Ia juga menunjukkan seni arsitektur pada bangunan-bangunan di ibu kota dan berbagai daerah.
Seorang sejarawan yang bernama Jamaluddin Falih al-Kailani mengatakan bahwa masa Sultan Sulaiman al-Qonuni merupakan masa keemasan Daulah Utsmani. Karena pada masanya Turki Utsmani menjadi satu-satunya negara adidaya di muka bumi dan memiliki dominasi kekuasaan di Laut Mediterania.
Masjid Sultan Sulaiman di Istanbul, Turki.
Pada masanya juga muncul arsitek-arsitek ulung dalam sejarah Islam, seperti Mimar Sinan. Ia membangun Masjid Sulaiman al-Qonuni atau dikenal juga dengan Jami’ as-Sulaimaniyah di Istanbul, pada tahun 964 H/1557 M. Ini adalah salah satu bangunan terbaik yang dibangun oleh seorang arsitek Islam yang bernama Mimar Sinan. Arsitek lainnya adalah Sinan Basya yang berperan besar dalam pembangunan-pembangunan Kerajaan Turki Utsmani. Ia juga yang memberikan sentuhan khas akan arsitektur Utsmani. Sehingga orang dengan mudah mengenal bangunan-bangunan Utsmani.
Pada masa pemerintahannya pula seni kaligrafi mencapai puncak kejayaannya. Banyak ahli kaligrafi terkenal yang muncul di zamannya. Sebut saja Hasan Effendi Chalibi al-Qarah Hashari yang membuat kaligrafi-kaligrafi di Jami’ as-Sulaiman. Ada juga Ahmad bin Qarah Hashari penulis Rawa-i’ al-Khoththi al-Arabi wa al-Fanni ar-Rafi’. Selain itu juga bermunculan ulama-ulama terkenal yang membimbing para penguasa Utsmani menuju jalan yang benar.
      -Perkembangan Perundang-Undangan dan Administrasi
Pada saat Sultan Sulaiman memerintah, ia menyusun tata perundangan dengan berdiskusi bersama Syaikh Abu as-Suud Effendi. Ia berusaha agar tata perundangan yang ia rancang tidak melenceng dari garis-garis yang dibataskan syariat Islam. Undang-undang tersebut dikenal dengan Qanun Namuhu Sulthan Sulaiman atau Undang-Undang Sultan Sulaiman. Undang-undang yang ia susun ini diterapkan hingga abad ke-13 H atau abad ke-19 M.

Karena konsistennya Sultan Sulaiman dalam menerapkan undang-undang yang ia susun, ia pun diberi gelar al-Qonuni. Oleh karena itu, gelar-gelar yang diberikan orang-orang Eropa kepada Sultan Sulaiman seperti The Magnificent dan The Great, tidak memiliki pengaruh dan kesan yang mendalam dibanding gelar al-Qonuni. Karena gelar ini menunjukkan keadilan sang sultan dalam memerintah. Meskipun wilayah kekuasaan Turki Utsmani sangatlah luas, namun kerajaan ini juga mengimbanginya dengan administrasi yang rapi dan tertata.
Wafatnya Sultan Sulaiman
Di penghujung usianya, Sultan Sulaiman menderita sakit encok, sehingga membuatnya tidak bisa lagi mengendarai kuda. Dan beliau memiliki usia yang cukup panjang, mencapai 74 tahun. Saat ia mengetahui orang-orang Kristen Eropa berada di garis perbatasan negeri kaum muslimin, Sultan Sulaiman tetap berdiri, berjihad memimpin pasukannya, padahal saat itu beliau sedang menderita sakit yang cukup parah.
Ia berangkat pada tanggal 9 Syawal 973 H/29 April 1566 M. Saat sampai di Kota Szigetvár, Hungaria, sakit yang beliau derita pun bertambah parah. Sebelumnya, dokter kerajaan telah menasihatinya agar tidak berangkat ke medan jihad, dengan harapan sakit yang ia derita dapat sedikit reda atau bahkan sembuh total. Namun beliau menjawab dengan jawaban yang diingat oleh sejarah, ia berkata, “Aku lebih senang wafat dalam keadaan berjihad di jalan Allah”.

Monumen persaudaraan antara Turki dan Hungaria yang dibangun di Kota Szigetvár. Tampak patung Sultan Sulaiman dan Nikola Zrinski.

Saat terjadi Perang Szigetvár, Nikola Zrinski hampir kehilangan seluruh pasukannya. Sultan pun mengepung Kota Szigetvár. Setelah dua minggu mengepung, sampailah pasukan Islam di garis depan, dan pertempuran pun pecah. Cuaca yang dingin, kekuatan besar Kristen dan semangat tinggi mereka untuk mempertahankan benteng, menjadikan perang itu sebagai perang terberat yang dihadapi umat Islam. Peperangan dan pengepungan terus berlangsung hingga genap 5 bulan. Kekhawatiran kaum muslimin pun kian meningkat karena sulitnya menaklukkan benteng Szigetvár ini.

Di sisi lain, sakit sultan bertambah parah, dan ia merasakan bahwa ajalnya telah dekat. Sultan pun merendahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ia berkata, “Ya Allah penguasa sekalian alam, berilah kemenangan kepada hamba-hamba-Mu, umat Islam, tolonglah mereka, dan berilah nyala api pada orang-orang kafir ini”.

Allah Ta’ala mengabulkan doa Sultan Sulaiman. Salah satu peluru meriam umat Islam menghatam gudang mesiu orang-orang kafir. Ledakan dahsyat pun terjadi. Benteng mereka pun jebol. Umat Islam pun menyerang mereka habis-habisan. Dan pada akhirnya, bendera Daulah Utsmaniyah pun berhasil berkibar di puncak benteng.

Betapa gembiranya sultan dengan kemenangan tersebut. Ia memuji Allah atas nikmat yang agung ini. Lalu ia berkata, “Sekarang, selamat datang wahai kematian. Selamat datang kebahagian (kemenangan) dan (semoga) kemenangan yang abadi. Berbahagialah jiwa yang ridha dan diridhai. Yaitu mereka yang Allah ridhai dan mereka juga ridha kepada Allah”. Ruh sang sultan pun beranjak, pergi meninggalkan jasadnya pada tanggal 20 Shafar 974 H/5 September 1566 M. Semoga Allah menempatkan di surga yang penuh dengan kebahagiaan.
Kabar wafatnya Sultan Sulaiman, disampaikan wazir Muhammad Basya kepada putra mahkota Sultan Salim II. Sultan Salim II berangkat menuju Szigetvár untuk menjemput sang ayah, kembali menuju Istanbul. Hari itu adalah hari yang penuh duka cita, umat Islam merasakan kesedihan dan kehilangan yang sangat mendalam. Adapun orang-orang Kristen Eropa merasakan kegembiraan yang begitu besar atas wafatnya Sultan Sulaiman, melebihi kegembiraan mereka atas wafatnya Sultan Bayazid I dan Muhammad al-Fatih. Mereka mendentangkan lonceng-lonceng gereja karena gembira dengan wafatnya sang mujahid.

Demikianlah kedigdayaan Sultan Sulaiman al-Qanuni yang pada masannya islam merupakan panutan dunia, islam merupakan suatu Negara adidaya yang sangat disegani oleh lawan-lawannya, semoga kedepannya artikel ini dapat menyadarkan umat islam bahwasannya kitalah yang harus mengasai dunia dan juga memnghentikan perbuatan dzhalim ynga dilakukan oleh kaum kafir di muka bumi ini. 


Daftar Pustaka :

https://id.wikipedia.org/wiki/Suleiman_I
heromuslim.blogspot.co.id/2015/04/khalifah-sulaiman-al-qonuni.html
www.hidayatullah.com/.../sulaiman-al-qanuni-versi-sejahrawan-muslim-dan-orientalis

Rabu, 05 April 2017

Tugas S.Indonesia (Pengertian, manfaat, harapan dari belajar sejarah)


Pengertian sejarah
“Menurut saya sejarah merupakan ilmu pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada manusia di masa lampau yang meneliti seluruh rangkaian peristiwa secara sistematis, sesuai dengan perkembangan manusia atau masyarakat dari waktu ke waktu. Dan juga merupakan suatu disiplin ilmu yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sejarah juga menyuguhkan fakta secara diakronis (berhubungan dengan perjalanan waktu), ideografis (menggambarkan dan memaparkan peristiwa), empiris (bersandar pada pengalaman manusia), dan unik (khas, dan hanya berlaku pada waktu dan tempat tertentu). Yang bertujuan menyimpulkan atau menilai serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa lampau guna mengambil ibrah beserta hikmah yang dijadikan sebagai pelajaran supaya keburukan-keburukan yang terjadi pada masa lampau tidak terulang kembali dan agar kedepanya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.”

Yang diharapkan dari belajar sejarah
Yang diharapkan dari belajar sejarah adalah dapat mengambil hikmah dari setiap rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalu. Supaya keadaan sekarang bisa jauh lebih baik dari pada masa sebelumnya. Dan juga kita diharapkan untuk tidak melupakan jasa-jasa orang terdahulu yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaga mereka demi kemajuan zaman yang dapat kita rasakan hasilnya saat ini, selain itu diharapkan juga selalu mengingat jasa para pahlawan khususnya di negeri ini, Indonesia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh presiden pertama kita yaitu bung karno “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Selain harapan-harapan dari belajar sejarah, dalam ilmu sejarah ini juga menyimpan sejuta manfaat diantaranya :
  Kegunaan edukatif
      kegunaan sejarah yang pertama adalah sebagai edukatif atau pelajaran. banyak manusia yang belajar dari sejarah. Belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan. Pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yang dialaminya sendiri, melainkan juga dari generasi sebelumnya. manusia melalui belajar dari sejarah dapat mengembangkan potensinya. kesalahan pada masa lampau, baik kesalahan sendiri maupun kesalahan orang lain Yang coba dihindari.

 Kegunaan inspiratif
      kegunaan sejarah yang kedua adalah sebagai inspiratif. berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca dan pendengarnya. Belajar dari kebangkitan nasional yang dipeloporii oleh bedirinya organisasi perjuangan yangmodern  di awal abad ke-20, masyarakat Indonesia sekarang berusaha mengembangkan kebangkitan nasional Yang kedua. Pada kebangkitan nasional yang pertama, bangsa indonesia berusaha merebut kemerdekaan yang sekarang ini sudah dirasakan hasilnya.

 Kegunaan rekreatif
      kegunaan sejarah yang ketiga adalah sebagai kegunaan rekreatif. kegunaan sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar. Melalui penulisan kisah sejarah yang menarik pembaca dapat terhibur. Gaya penulisan yang hidup dan komunikatif dari beberapa sejarawan terasa mampu “menghipnotis” pembaca. Pembaca akan merasa nyaman  membaca tulisan dari sejarawan.
Demikian yang diharapkan dari belajar sejarah beserta manfaatnya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.






Sejarah masuknya hindu-budha ke Nusantara



Sejarah Masuknya Hindu-Budha Ke Nusantara
Agama Hindu dan Budha berasal dari Jazirah India yang sekarang meliputi wilayah negara India, Pakistan, dan Bangladesh. Kedua agama ini muncul pada dua waktu yang berbeda (Hindu: ±1500 SM, Budha: ±500 SM), namun berkembang di Indonesia pada waktu yang hampir bersamaan. Munculnya agama Hindu dan Budha di Indonesia berawal dari hubungan dagang antara pusat Hindu Budha di Asia seperti China dan India dengan Nusantara. Hubungan dagang antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang dari wilayah Hindu Budha inilah yang menyebabkan adanya asimilasi budaya, sehingga agama Hindu dan Budha lambat laun mulai berkembang di Nusantara.
Kepulauan Nusantara yang diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta oleh dua samudra (Hindia dan Pasifik), mempunyai letak yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dunia kala itu. Hal ini membuat para pedagang asing dari negeri-negeri lain seperti Cina, India, Persia, dan Arab sering singgah di kepulauan Nusantara. Para pedagang asing ini tidak hanya berkepentingan untuk berdagang di Nusantara. Mereka juga menjalin interaksi secara sosial budaya dengan masyarakat lokal, sehingga masuklah pengaruh-pengaruh kebudayaan mereka ke Nusantara, termasuk pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Sebenarnya ada beberapa teori yang diajukan oleh para ahli mengenai siapa sebenarnya yang membawa agama Hindu dan Budha di Indonesia, berikut adalah beberapa teori/hipotesa mengenai masuknya agama hindu dan budha di indonesia.


1. Teori Brahmana

Teori yang diprakarsai oleh Van Leur ini menyatakan bahwa kaum Hindu dari kasta Brahmanalah yang mempunyai peran paling besar dalam proses masuknya agama dan budaya Hindu di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Kitab Weda ditulis dengan Bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh kaum Brahmana. Para Brahmana yang berasal dari pusat-pusat Hindu di dunia ini datang karena undangan para penguasa lokal yang ingin yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai agama Hindu. Para raja/penguasa pribumi tersebut adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme sebelum datangnya pengaruh Hindu dan Budha. 



2. Hipotesa Ksatria

Menurut teori yang diusung oleh C.C. Berg ini, agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh kaum ksatria (kaum prajurit kerajaan). Hal ini terjadi karena pada awal abad Masehi sering terjadi kekacauan politik di India sehingga sering terjadi perang antargolongan di negeri ini. Para prajurit perang yang terdasak musuh atau telah jenuh berperang akhirnya meninggalkan tanah air mereka. Diantara para ksatria yang mencari tempat pelarian ini, sebagian ada yang mencapai Indonesia. Mereka inilah yang kemudian membuat koloni dan beralkulturasi dengan penduduk lokal. Hal ini membuat semakin banyak masyarakat lokal yang menganut agama Hindu, pada perkembangan berikutnya, akhirnya lahirlah kerajaan Hindu di Nusantara.


3. Hipotesa Waisya
Menurut teori ini, kaum Hindu dari kasta Waisya adalah yang paling berjasa dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Kaum Waisya adalah mereka yang berasal dari kalangan pekerja ekonomi seperti pedagang dan saudagar. Para pedagang yang berasal dari India atau pusat-pusat Hindu lain di Asia ini banyak melakukan hubungan dagang dengan masyarakat atau penguasa pribumi. Hali inilah yang membuka peluang bagi masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori Waisya ini diprakarsai oleh Dr. N. J. Krom.


4. Hipotesa Sudra

Orang-orang yang tergolong dalam Kasta Sudra adalah mereka yang dianggap sebagai orang buangan. Kaum Sudra ini diduga datang ke Indonesia bersama kaum Waisya atau Ksatria. Karena datang dalam jumlah yang sangat besar, kaum Sudra inilah yang telah memberikan andil paling besar terkait masuknya agama Hindu ke Indonesia.

Meskipun disampaikan oleh para ahli, keempat teori diatas tetap mempunyai kelemahannya masing-masing. Hal tersebutkarena kitab Weda yang merupakan kitab suci agama Hindu ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan Pallawa yang notabene hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Kaum Ksatria, Waisya, dan Sudra tentu saja akan sangat kesulitan menyebarkan agama Hindu di Indonesia karena mereka tidak memahami Bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa dalam kitab Weda. Namun demikian, menurut kepercayaan India kuno, kaum Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan sehingga hampir mustahil untuk kaum Brahmana menyebarkan Hindu di Indonesia Secara langsung. 

Karena keempat teori yang saya sampaikan diatas memiliki banyak kelemahan, maka muncullah teori lain yaitu teori arus balik. Teori ini dicetuskan oleh F.D.K Bosch, menurutnya Agama Hindu masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia yang membawa Agama Hindu ke Indonesia ini berasal dari golongan pemuda yang memang sengaja dikirim oleh para penguasa pribumi untuk mempelajari agama Hindu dan Budha di India. Setelah selesai belajar di India, mereka kemudian pulang ke Nusantara lalu mulai menyebarkan agama Hindu atau Budha.


Kerajaan-Kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara

Berikut adalah beberapa kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara pada era berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu dan Budha.


  1. Kerajaan Kutai
  2. Kerajaan Tarumanegara
  3. Kerajaan Holing/Kaling
  4. Kerajaan Sriwijaya
  5. Kerajaan Melayu
  6. Kerajaan Mataram Kuno
  7. Kerajaan Kediri
  8. Kerajaan Singasari
  9. Kerajaan Majapahit
  10. Kerajaan Medang Kamulan

Sejarah Lahirnya Hindu-Budha.
Lahirnya Agama Hindu. Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Hindu di India berkaitan dengan sistem  kepercayaan bangsa Arya yang masuk ke India pada 1500 S.M. Kebudayaan Arya berkembang di Lembah Sungai Indus India. Bangsa Arya mengembangkan sistem kepercayaan dan sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan tradisi yang dimilikinya. Sistem  kepercayaan itu berupa penyembahan terhadap banyak dewa yang dipimpin oleh golongan pendeta atau Brahmana.  Keyakinan bangsa  Arya terhadap kepemimpinan kaum Brahmana dalam melakukan upacara ini melahirkan kepercayaan terhadap Brahmanisme. Selanjutnya  golongan  ini  juga  menulis ajaran mereka  dalam kitab-kitab  suci yang menjadi standar pelaksanaan upacara-upacara keagamaan. Kitab suci agama  Hindu disebut  Weda (Veda), artinya pengetahuan tentang agama. Sanusi Pane dalam bukunya Sejarah Indonesia menjelaskan  tentang Weda terdiri dari 4 buah kitab, yaitu:
Rigweda
Rigweda adalah kitab yang berisi tentang ajaran-ajaran Hindu. Rigweda merupakan kitab yang tertua  dan kemungkinan muncul  pada  waktu  bangsa   Arya masih  berada   di daerah Punjab.
Samaweda
Samaweda adalah kitab yang berisi nyanyian-nyanyian pujaan yang wajib dilakukan ketika upacara  agama.
Yajurweda
Yajurweda adalah kitab yang berisi dosa-doa yang dibacakan ketika diselenggarakan upacara  agama.  Munculnya  kitab ini diperkirakan  ketika  bangsa  Arya mengusai  daerah  Gangga Tengah.
Atharwaweda
Atharwaweda adalah  kitab yang berisi doa-doa untuk menyembuhkan  penyakit, doa  untuk   memerangi  raksasa. Doa-doa  atau  mantera pada  kitab ini muncul setelah  bangsa Arya berhasil menguasai  daerah  Gangga  Hilir.
Agama Hindu bersifat Politheisme, yaitu percaya terhadap banyak  dewa  yang masing-masing dewa  memiliki peranan dalam kehidupan masyarakat.  Ada tiga dewa  utama  dalam agama  Hindu yang  disebut  Trimurti terdiri dari Dewa  Brahma  (dewa  pencipta), Dewa Wisnu (dewa pelindung),  dan Dewa Siwa (dewa perusak).
Sistem  kemasyarakatan  yang  dikembangkan  oleh  bangsa Arya  adalah   sistem   kasta.   Sistem   kasta   mengatur  hubungan sosial bangsa   Arya dengan bangsa-bangsa yang  ditaklukkannya. Sistem ini membedakan masyarakat  berdasarkan fungsinya. Golongan   Brahmana  (pendeta)   menduduki golongan  pertama. Ksatria (bangsawan, prajurit) menduduki golongan kedua.  Waisya (pedagang dan  petani)  menduduki golongan  ketiga,  sedangkan Sudra (rakyat biasa) menduduki golongan terendah atau  golongan keempat. Sistem kepercayaan dan kasta menjadi dasar terbentuknya kepercayaan terhadap Hinduisme. Penggolongan seperti inilah yang disebut caturwarna.

Lahirnya Agama  Buddha.
Agama  Buddha  lahir sekitar abad  ke-5 S.M. Agama  ini lahir sebagai reaksi terhadap agama  Hindu terutama karena keberadaan kasta. Pembawa agama Buddha adalah Sidharta Gautama (563-486 S.M), seorang  putra  dari Raja Suddhodana dari Kerajaan Kosala di Kapilawastu.  Untuk  mencari  pencerahan hidup,  ia meninggalkan Istana Kapilawastu dan  menuju  ke tengah hutan  di Bodh Gaya. Ia bertapa di bawah  pohon  (semacam  pohon  beringin) dan  akhirnya mendapatkan bodhi,  yaitu semacam  penerangan atau  kesadaran yang sempurna. Pohon itu kemudian  dikenal dengan pohon  bodhi. Sejak saat  itu,  Sidharta  Gautama dikenal  sebagai  Sang  Buddha, artinya yang disinari. Peristiwa ini terjadi pada  tahun  531 SM. Usia Sidharta waktu itu kurang lebih 35 tahun.  Wejangan  yang pertama disampaikan  di Taman Rusa di Desa Sarnath.
Dalam ajaran Buddha manusia akan lahir berkali-kali (reinkarnasi). Hidup adalah samsara, menderita, dan tidak menyenangkan. Menurut   ajaran  Buddha,  hidup  manusia  adalah menderita, disebabkan karena  adanya  tresna atau  cinta, yaitu cinta (hasrat/nafsu)  akan kehidupan.
Penderitaan dapat  dihentikan, caranya  adalah   dengan  menindas   tresna  melalui  delapan   jalan (astawida),   yakni   pemandangan    (ajaran) yang benar, niat atau sikap yang benar, perkataan  yang  benar,   tingkah   laku  yang benar, penghidupan (mata    pencaharian) yang  benar,   usaha   yang  benar, perhatian yang benar,  dan semadi yang benar.

Tugas S. Indonesia (Hikmah empelajari kerajaan islam)

OK. Pada kesempatan emas kali ini saya akan melanjutkan episode tugas sejarah Indonesia berikutnya yang berjudul :

Hikmah dari mempelajari sejarah kerajaan islam di Indonesia

         Apa saja sih manfaatnya ?, manfaat dari mempelajari kerajaan islam di Indonesia adalah kita jadi tahu bahwa peranan kerajaan islam di Indonesia ini sangatlah besar, tidak hanya kerajaan hindu-budha saja yang berperan. diantara peranan kerajaan islam untuk bangsa indonesia adalah mempertahankan wilayahnya (Indonesia saat ini) dari serangan bangsa barat, otomatis dengan usaha tersebut bangsa Indonesia pada awalnya sempat terhindar dari penjajahan bangsa barat selama berabad-abad, kemudian peranan lainya adalah menyebarkan syariat islam ke seluruh pelosok tanah air, ini juga menjadi salah satu manfaat terbesar. mengapa? karena  bisa kita bayangkan jikalau tidak disebarkanya ajaran islam oleh kerajaan islam indonesia melalui para wali songo kemungkinan besar keadaan Indonesia sekarang ini dipenuhi oleh orang-orang non-muslim termasuk kita. 

        Manfaat selanjutnya adalah kita dapat mengambil beberapa hikmah dari perjuangan kerajaan islam Indonesia dalam mempertahankan negara serta agama dari ancaman para bangsa asing yang ingin menjajah Indonesia pada waktu itu, selain itu kita juga bisa merasakan manfaatnya sampai detik ini, yaitu merdekanya Negara Republik Indonesia. sepintas memang tidak terlihat, akan tetapi jika kita lebih memperdalam lagi sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, kita akan menemukan suatu peranan yang sangat besar yang dilakukan oleh salah satu kerajaan islam Indonesia yang sampai saat ini masih berdiri tegak serta masih memerintah wilayah kekuasaanya dibawah pemerintahan Indonesia. 

          Kerajaan islam tersebut adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang saat ini memerintah didaerah istimewa Jogjakarta yang pada saat masa-masa revolusi Indonesia, raja Jogja pada saat itu yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX membantu rencana panglima besar Soedirman untuk melaksanakan serangan umum 1 Maret yang bertujuan untuk menunjukkan kepada duna saat itu bahwa Indonesia masih ada serta masih memiliki kekuatan untuk melawan penjajahan bangsa Belanda saat itu. 

           Manfaat yang terakhir adalah kita dapat menerapkan hal-hal baik yang diterapkan pada masa kerajaan islam didalam kehidupan kita sekarang ini seperti sifat daya juang yang tinggi dalam menghadapi segala cobaan, lalu sistem pemerintahan islam yang mengutamakan kesejahteraan, kemakmuran serta keadilan bagi rakyat, kemudian sifat para pemimpin yang pada waktu itu sangatlah amanah serta terhindar dari yang namanya KKN, dan hal yang paling penting untuk diterapkan adalah berjuang sekuat tenaga untuk membela serta mempertahankan agama Allah dari ancaman orang-orang kafir maupun munafik. 

-SEKIAN TERIMAKASIH-